Make your own free website on Tripod.com
                            www.muslim.good.to

“ dan lantaran perkataan mereka yang mengatakan : Sesungguhnya kami telah membunuh Isa Al-Masih anak Maryam Rasul Allah. Padahal sebenarnya mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya (hingga mati), melainkan hanyalah diserupakan saja pada mereka....”.

 

*       KISAH PENYALIBAN

 

Benarkah Nabi Isa Al-Masih Alaihissallam disalib dan meninggal pada kayu salib?

 

Pertanyaan tersebut menarik untuk didiskusikan karana persoalan penyaliban akan membawa implikasi panjang pada akidah umat, sebab seperti  kita ketahui, doktrin Kristen menegaskan bahwa Isa Al-Masih yang oleh kalangan Kristen disebut dengan Yesus, meninggal di kayu salib. Implikasi panjang yang saya maksud, karena  konsep penyaliban tersebut menjadi tonggak ”Akidah”  umat Kristen tentang kenaikan dan kebangkitan Yesus, yang pada ujung-ujungnya mengarah pada pengakuan ketuhanan Yesus.

 

Nabi Isa, dalam sejarahnya memang mendapat hukuman salib. Hukuman itu diterimanya karena beliau dianggap menghujat Allah dengan mengatakan dirinya adalah anak Allah ( Mat. 26:63). Tetapi ketika diajukan ke wali negeri, Isa Al-Masih dituduh makar sehingga  Pilatus bertanya engkau raja orang Yahudi? (Mat 27:11). Karena dituduh makar itulah, beliau disalib.

 

Marilah kita telaah sejarah itu secara objektif. Dalam Injil dijelaskan sebagai berikut: ”Hari itu ialah persiapan Paskah, kira-kira jan 12” (Yoh 19:14) . Istilah Paskah sendiri berasal dari bahasa Ibrani dari kata ”pesah” yang berarti: melewati. Upacara ini seperti dijelaskan di Perjanjian Lama sebenarnya dilaksanakan sebagai peringatan pembebasan bangsa Israel dari bangsa Mesir, yang pada saat itu anak-anak sulung orang Mesir dibunuh tetapi pintu-pintu rumah orang Ibrani ”dilewati”, karena ambang atas dan kedua tiang pintu rumah mereka disapu dengan darah anak kambing domba (Kel 12:23-28)

 

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, Yesuslah yang sebut-sebut sebagai ”anak domba bukit Paskah” ( I kor 5:7). Dengan demikian menurut keyakinan Kristen sendiri Isa Al-Masih (harus) disalib untuk menebus dosa umatnya sebagai akibat dosa yang diwariskan Adam dan Hawa. Dengan peyaliban tersebut, maka manusia terbebas dari siksaan akibat dosa tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya gereja menyatakan bahwa  Paskah adalah hari ”Kebangkitan Yesus”. Dalam persiapan Paskah, kira-kira jam 12, Pitalus selaku gubernus Romawi, memutuskan untuk menyerahkan Isa Al-Masih kepada orang-orang Yahudi, agar disalib di bukit Golgota (bukit Tengkorak). Maka Isa Al Masih dipaksa memangkul salib ke bukit Golgota.

 

Setelah sampai di bukit Golgota (Matius 27:46) kira-kira jam 3 sore berserulah Isa Al Masih dengan suara nyaring ”Eli Eli Lama Sabakhtani?” yang artinya ” Tuhanku,Tuhanku mengapa engkau meninggalkan aku?”.

 

Hari itu adalah hari persiapan Paskah dan besoknya adalah hari Sabat (hari sabtu). Bagi umat Yahudi, hari Sabat adalah hari ke-7,  hari yang suci dan Tuhan berhenti bekerja pada hari tersebut, sehingga orang Yahudi dilarang bekerja apapun (Kel. 20:8-11) termasuk melakukan penyaliban, dan orang yang bekerja pada hari itu harus dihukum mati (Kel 31:12-14).

 

Pada saat itu, waktu yang tersisa menyelesaikan penyaliban, sebelum memasuki hari Sabat, tinggal 2,5 – 3 jam lagi (ingat bahwa pergantian waktu menurt tradisi Yahudi adalah terbenamnya matahari bukan pada jam 00.00).

 

Terdesak oleh waktu, dan untuk mempercepat proses kematian orang-orang yang disalib tersebut, orang-orang Yahudi ingin segera memastikan kematian dengan cara ”mematahkan kaki” yaitu meremukkan kaki dengan batas bagian tempurung kebawah.

 

”Datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang yang disalib tersebut dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan”. (Yoh 19:31).

 

Isa Al-Masih Meninggal Di Kayu Salib?

 

Tepat giliran Isa Al Masih, para serdadu Romawi ternyata tidak mematahkan kakinya sebab mereka menyangka Isa Al-Masih telah mati.

 

“Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakinya”. (Yoh 19:33).

 

“Pilatus heran saat mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala serdadu dan menanyakan kepadanya benarkah Yesus sudah mati”. (Markus 19:33)

 

Benarkah Isa Al-Masih telah mati di kayu salib? Itulah pertanyaan kritis, yang saat itu juga sempat membuat Pilatus terheran-heran. Berdasarkan catatan sejarah dan tinjauan sains, umumnya orang yang disalib mengalami kematiannya minimal dua hari.

 

Kematian pada kayu salib baru bisa terjadi oleh dua hal:

 

Pertama, oleh infeksi. Dipakunya tangan dan kaki pada kayu salib membuka peluang masuknya kuman ke dalam tubuh. Tanpa perlindungan anti biotika, kuman tersebut akan berkembang dan menyebar keseluruh tubuh. Proses kematian karena infeksi seperti ini biasanya berlangsung dua sampai tiga hari.

 

Kedua, kematian disalib terjadi karena kelaparan dan dahaga. Dengan tidak masuknya makanan yang diperlukan untuk kehidupan normal, maka hal tersebut akan mengganggu metabolisme dalam tubuh. Karena tidak adanya suplai makanan tubuh memobilisasi bahan simpanan  yang ada dalam tubuh. Bila simpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen yang ada habis, maka protein yang ada di otot diguakan sebagai pembentukan energi yaitu pembentukan ATP. ATP merupakan energi ”siap pakai” bila protein yang ada di otot berkurang sedemikian rupa maka fungsi sel akan terganggu dan diakhiri dengan kematian, proses ini berlangsung biasanya 6-7 hari.

 

Dengan tinjauan medis seperti itu terbukti bahwa satu hari (saat itu hari Jum’at belum cukup meninggal di kayu salib). Disisi lain karena mengira Yesus sudah mati, itulah seorang dari prajurit menikam lambungnya dengan tombak dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19:34)

 

Pertanyaan kritis selanjutnya adalah mungkinkah orang yang sudah mati mengalirkan darah jika terkena tikaman?

 

Keluarnya darah dari organ tubuh yang ditikam menandakan masih aktifnya aliran darah dalam sistem peredaran orang tersebut, dan itu berarti jantung yang  bertugas memompa darah keseluruh tubuh masih berfungsi. Masih berfungsinya jantung tersebut menandakan bahwa seseorang masih hidup.

 

Penelahaan yang cermat dan objektif terhadap ayat-ayat Bibel di atas membuktikan bahwa saat itu Isa Al-Masih belum meninggal. Dia hanya pinsan dan kondisi pinsan itulah yang dilihat oleh serdadu sebagai kondisi mati (ingat pada kejadian tersebut para serdadu hanya melihat bukan memeriksa bahwa Yesus telah mati).

 

Al-Quran Tentang Penyaliban Isa Al-Masih

 

Lolosnya Isa Al-Masih dari pematahan kaki yang berarti tidak dilakukannya pemastian kematian karena para serdadu sudah yakin Isa Al-Masih sudah meninggal, merupakan suatu pertolongan Allah atas hambanya. Pinsannya Isa Al-Masih telah dilihat oleh para serdadu sebagai kematian Isa Al-Masih.

 

Kronologis kisah yang diungkapkan oleh Bibel justru menunjukkan bahwa saat itu Isa Al-Masih belum meninggal. Namun kebenaran ini justru ditolak oleh umat Kristen demi konsep ketuhanan Yesus yang dirumuskan dalam konsili Nicea tahun 325 M. Sebab konsep ketuhanan itu mengharuskan adanya proses: evolusi ketuhanan Yesus sebagai berikut: Penyaliban, Mati, Bangkit (hidup kembali), Duduk di surga  disebelah kanan Allah. (Markus 16:19).dan (menjadi) Tuhan.

 

Al-Quran sendiri secara gamblang menjelaskan bahwa Isa Al-Masih tidak mati dibunuh pada kayu salib.

 

“ dan lantaran perkataan mereka yang mengatakan : Sesungguhnya kami telah membunuh Isa Al-Masih anak Maryam Rasul Allah. Padahal sebenarnya mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya (hingga mati), melainkan hanyalah diserupakan saja pada mereka....”.

(An-Nisa/4:157).

 

Prof.Dr.KH.Hasbullah Bakry, SH. Dalam bukunya “ Isa dalam Al-Qur`an, Muhammad Dalam Bibel” ( Firdaus ), cetakan 8 hal 45 dan 47 menyatakan penafsirannya tenteng QS. An-Nisa/4:157.

 

Kalimat “ Ma Qotaluhu wama sholabuhu” yang berarti : “ mereka tidak khusus membunuhnya dan tidak menyalibnya” haruslah diartikan sebagai penguat (kalimat) satu dengan yang lain. Ma qotaluhu artinya mereka tidak membunuh Isa dengan jalan apa saja (di sini membunuh berarti umum). Ma sholabuhu mereka juga tidak membunuhnya dengan penyaliban tetapi hanya terserupa saja sebagai penyaliban.

 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih tidak di salib tetapi yang disalib sampai mati adalah Yudas Iskariot alias Yahuda Askhariyuti. Pendapat seperti ini sulit dipertanggungjawabkan sebab Al-Quran sama sekali tidak pernah menyebut atau mengisahkan nama tersebut.

 

Lantas dari mana umat Islam mengenal nama Yudas Iskariot? Jawaban atas pertanyaan ini bisa kita baca lewat keterangan Prof. Hamka :

 

” Mereka menerima riwayat dari orang–orang Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam. Satu riwayat yang di nukilkan Ibnu Jaril menyatakan bahwa rupa Isa disamakan kepada Yahuda (Yudas) itu sendiri sehingga dialah yang ditangkap dan dialah yag disalib”.

 

....adapun riwayat–riwayat ini diterima oleh sahabat Rasullullah dan penafsir sesudahnya ialah orang-orang ahli kitab yang masuk Islam diantaranya Wahab Bin Munabbih.

 

Jadi jelas bahwa umat Islam mengenal Yudas dari ahlul kitab bukan dari Al-Qur`an.

 

Misteri Penguburan Isa Al Masih

 

Dalam keadaan pingsan  serdadu menganggap dalam keadaan mati Isa Al-Masih diturunkan dari kayu salib.

 

Berikut adalah penjelasan Bibel, berkaitan dengan periatiwa–peristiwa  setelah Isa Al-Masih dianggap mati di kayu salib.

 

”Sesudah itu Yusuf dari Airmatea ia murid Yesus tetapi sembunyi–sembunyi karena takut kepada orang–orang Yahudi meminta kepada Pilatus supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaanya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat  itu ( Yoh 19:38 ).

 

Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang  mula–mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak dan membubuhi dengan rempah–rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat ( Yoh 19:40 ).

 

Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan dia di dalam  kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian diguligkannya sebuah batu kepintu kubur itu. ( Markus 19:46 ).

 

Setelah lewat  hari Sabat,  Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah–rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus (Markus 16:1).

 

Ayat–ayat tersebut memang jika dibaca tanpa daya kritis, seolah menguatkan fenomena bahwa Isa Al-Masih maninggal karena disalib. Tetapi marilah dengan kakuatan nalar, kita telaah makna–makna di balik ayat–ayat tersebut.

 

Secara kronologis, peristiwa penurunan Isa Al-Masih dari kayu salib, seperti dijelaskan ayat–ayat diatas, adalah sebagai barikut:

 

1.      Hari Jum`at, sebelum masuk waktu Sabat (sebelum magrib) Yusuf dari Arimatea membawa Yesus ke kuburnya.

2.      Malam harinya, Nikodemus datang ke kubur dengan mambawa campuran minyak mur dan gaharu. Lalu mengkafani Yesus dengan kain lenan.

3.      Ahad pagi hari, Maria Magdalena dan kawan–kawan membawa rempah–rempah ke kubur untuk meminyaki Yesus.

 

Dari kronologi tersebut muncul pertanyaan ” mayat ” Isa Al-Masih sudah diberi rempah–rempah untuk diminyaki oleh Yusuf Arimatea dan Nikodemus serta dikafani, mengapa pada (hari Ahad) datang  para wanita ke kubur dengan membawa rempah–rempah dan meminyaki Isa Al-Masih.

 

Jawaban tidak sulit, datangnya para wanita tersebut pada dua hari sesudah ”Penguburan” justru manunjukkan bahwa Isa Al Masih belum meninggal. Kedatangan mereka dengan membawa rempah–rempah tersebut tentu saja dimaksudkan untuk  mengobati Isa Al-Masih. Mengingat rempah–rempah dan minyak Mur antara lain berfungsi sebagai obat untuk luka.

 

 

 

 

Bentuk Kubur Yahudi

 

Mungkin anda bertanya : ” Bisakah orang bertahan  hidup dalam kuburan ?” anda juga mungkin bertanya: ”Bisakah kubur itu di datangi/dimasuki sebagaimana dilakukan Maria Magdalena dan kawan–kawan ?”

 

Untuk manjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu kita harus paham tentang kubur orang Yahudi.

 

Bentuk kubur orang Yahudi jangan kita bayangkan sama dengan model kubur orang Islam, mayat tidak ditanam ke dalam tanah, malainkan diletakkan diatas batu yang ada di dalam ruang kubur terletak di gua ataupun yang sengaja dibangun berbentuk semacam tempurung dan berpintu.

 

Kondisi kubur seperti itu memberi dua kemungkinan:

 

Pertama, orang yang dimasukkan dalam ruang kubur seperti yang dialami olah Isa Al-Masih masih tetap hidup karena masih ada ruangan untuk bergerak dan bernafas.

 

Kedua, memungkinkan orang lain mamasukinya, seperti  yang dilakukan para murid Isa Al-Masih, sehingga terbuka lebar–lebar kesempatan memberi pengobatan (sekaligus makanan) sampai luka–luka Isa Al-Masih sembuh.

 

Dimanakah Isa Al Masih Wafat dan Dimakamkan?

 

Dari penjelasan di atas dapat  disimpulakan bahwa Isa Al-Masih tidak meninggal di kayu salib. Beliau hanya pernah mengalami bahaya penyaliban namun akhirnya diselamatkan olah Allah dengan cara diserupakan kondisinya sebagai orang mati dengan cara pingsan. Jadi Isa Al-Masih  tidak maninggal di salib malainkan selamat dan tetap hidup bahkan  sampai usia lanjut.

 

Keterangan bahwa kehidupan Isa Al-Masih berlanjut sampai usia lanjut dapat kita baca dari keterangan Al-Qur`an surat Ali Imran/3:46.

 

” Dia dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan ketika sesudah dewasa ”.

 

Kamus bahasa arab ” Munjid fil lughati wal dabi ” mengartikan ” Kahlan ” sebagai ” man kaanat sinnu `umrihi bainal tsalatsina wal khamsina taqriban ” (seorang yang berusia kurang dari 30-50 tahun).

 

Al Imam Raghib, seperti dikutib Saleh A. Nahdi (Bibel dalam Timbangan , PT Arista Brahmatyasa, 1994, hal. 20), mengatakan bahwa ”Kahlan” sebagai ”man wakhatahu syaib” (orang yang rambutnya bercampur dengan yang putih karena usianya yang lanjut).

 

Adapun bukti–bukti bahwa Isa Al-Masih hidup sampai usai lanjut, diantaranya:

 

1.      Dalam usia lanjut yang dimulai antara 40-50 tahun, Yesus masih memberikan pengajaran. Masa hidup tadi disaksikan bukan saja oleh para penginjil melainkan juga olah semua pemimpin–pemimpin gereja yang datang ke Asia bersama Yahya yang menyampaikan riwayat itu kepada pemimpin–pemimpin gereja adalah Yahya sendiri (C.R.Gregory, Canon and the New Testament).

2.      James Moffat : Pemuda–pemuda gereja Asia percaya kematian Yesus itu terjadi di zaman Kladius tahun 41-51. Papias sendiri mengatakan bahwa pada usia tersebut Yesus masih mengajar.

 

Pertayaan selanjutnya adalah dimanakah beliau manjalani masa–masa kehidupan sampai usia lanjut dan dimakamkan?

 

Jawaban atas pertayaan tersebut dapat kita dapatkan dari penjelasan Al–Qur`an surat Al Mu`minun/ 23:50 :

 

” Dan kami telah jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukit yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang–padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.”

 

Dimanakah  tempat yang oleh ayat ini disebut ” Suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat  padang–padang rumput dan sumber–sumber air bersih yang mangalir?”

 

Seperti dikutip H.M.Josoef Sou`yb (Isa Al Masih sudah Mati?, PT. Al Husna Zikra, 1994, Cet. 1, h. 20-26), diantara para pakar merujuk bahwa tempat itu adalah dataran tinggi pada bukit sebelah barat laut mati, Palestina, yaitu biara tempat kediaman sekte Esenes. Tempat ini dikenal dengan Bukit Qumran.

 

”Pada dataran deretan bukit batu yang membujur disebelah barat laut mati  itu terdapat suatu dataran luas ..... pada dataran itu menonjol sekelumit runtuhan diding tembok”.

 

”Pere de Vaux dengan stafnya, demikian Edmund Wilson di dalam bukunya Dead Sea Scroll edisi 1956 H. 55-71, yang melakukan panggalian dan menemukan reruntuhan suatu biara besar dengan ruangan–ruangan yang luas. Di bawahnya dijumpai pula enam saluran air tapi kini sudah kering”.

 

”Diatara biara besar pada  dataran tinggi itu dengan pinggir Laut Mati demikian Edmund Wilson, tampak terdapat lebih dari seribu kuburan..... Diantara seluruh kuburan yang digali itu, maka hanya ada satu jenazah saja yang punya ”Keistimewaan” yaitu memakai keranda. Dan diantara seluruh jenazah itu terdapat jenazah seorang wanita (ingat, penghuni biara/bukit Qumran hanya kaum laki–laki)”.

 

Satu jenazah yang mempunyai keistimewaan dengan keranda dan satu jenazah wanita itu tidak lain adalah jenazah Isa Al-Masih dan ibundanya. Siti Maryam yang hidup dan meninggal serta dimakamkan di bukit  Qumran.

 

Mengapa data–data penting ini terkesan tidak banyak diungkap. Mudah saja jawabanya, karena ada pihak–pihak tertentu  yang berkepentingan dengan soal ini. Hal ini misalnya dapat kita cermati dari fenomena naskah Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang terletak di gua Qumran, sekitar 10 mil sebelah Timur Yerussalam yang  menyimpan Fragmen dokumen yang ditulis sekitar tahun 200 SM. Sampai tahun 50 M dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Aram (bahasa  sehari-hari yang dipakai Yesus), diantaranya terdapat 127 dokumen ayat–ayat Bibel  juga kitab suci Apokriba (Kitab yang tidak boleh dibaca olah umat Kristen). Sejak penemuannya tahun 1047 olah seorang gembala domba Badui sampai selama empat dekade berikutnya, banyak rahasia Gulungan yang disembunyikan olah kelompok kecil sarjana yang menguasai dokumen tersebut. Namum penyembunyian itu berakhir bulan September 1991, ketika sebuah lembaga  penelitian di California yang menyimpan empat set fotografi koleksi Dead Sea Scrolls, mulai mengizinkan para sarjana yang berkepentingan untuk menelitinya. Bahkan komentar Frank M. Cross, edisi Naskah Gulungan Laut Mati dan seorang pakar bahasa Ibrani dan Barat di Harvard University, memperingatkan bahwa akses tanpa batas pada naskah gulungan itu akan membongkar misteri yang aneh sekitar Al Kitab, seperti kitab Tobit, Sirakh dan Yobel (Yang Apokripa bagi pemeluk Katolik dan Protestan) (Dr. Muhammad Ataur Rahim, Misteri Yesus Dalam Sejarah, pustaka Da`I, 1994).

 

 

next>>>

 

 

MEMPERTANYAKAN KEBANGKITAN DAN KENAIKAN ISA AL-MASIH

    ¨       Pendahuluan

¨       Kebangkitan Isa Al Masih Dan Penampakan Dirinya

¨       Kenaikan Isa Al-Masih

¨       Isa Al-Masih Kembali Ke Dunia?